Kenapa Harus Python?

November 13, 2017
Memilih Python sebagai bahasa pemograman adalah sesuatu yang perlu dipertimbangkan. Hal pertama yang menjadi pertimbangan adalah Python merupakan salah satu bahasa pemograman yang mudah dipelajari dan murah (gratis). Istilahnya mumer (murah meriah). Selain itu, Python memiliki struktur data tingkat tinggi yang efesien, sehingga memungkinkan kita untuk menuliskan code dalam baris perintah yang lebih sederhana dan mudah dipahami jika dibanding dengan bahasa C, C++ atau Java. 
  
Dalam 10 tahun terakhir, Python telah menjadi salah satu bahasa pemograman yang populer di kalangan programmer baik untuk kebutuhan web-hosting maupun pengolahan data secara ilmiah. Para programmer yang sudah berinterkasi dengan Python lebih merasa nyaman karena perintah syntax yang sederhana dan code mudah dibaca dan dipahami. Secara sekilas code yang dikembangkan dalam Python terlihat lebih bersih.

Secara umum, Python merupakan bahasa pemograman tingkat tinggi dan berorientasi pada objek dan imperatif sehingga dapat dikembangkan dalam gaya dengan fungsional tertentu. Program Python memiliki kemampuan adaptif dan portabel sehingga Python dapat dihubungkan ke sistem operasi lain seperti Windows, Linux, Unix dan Mac OS X, dan dapat dijalankan di mesin virtual Java dan .NET.

David Beazley mengatakan dalam kata pengantarnya untuk buku
"How to Think like a Computer Scientist Learning with Python" oleh Jeffrey Elkner, Allen B. Downey, dan Chris Meyers. Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa Python memberikan ruang untuk semua pengguna dapat dengan mudah memahaminya.

Meskipun demikian ada permintaan pelatihan Python ke banyak komunitas yang berbeda. Sehingga muncul pertanyaan "mengapa Python? " atau "mengapa harus mengajarkan pemrograman dengan Python?"  
Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah tugas sederhana - terutama bila pendapat umum ada di sisi alternatif yang lebih masokistik seperti C ++ dan Java. Namun, secara sederhana dapat dijelaskan bahwa pemrograman Python cukup menyenangkan dan lebih produktif.

Guido van Rossum, penulis Python, mulai mengerjakan Python di National Research Institute untuk Matematika dan Ilmu Komputer di Belanda (Centrum voor Wiskunde en Informatica, CWI). Ketika ditanya, fitur Python mana yang paling dia sukai, Guido van Rossum mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Linux Journal mengatakan bahwa keseluruhan sistem pemograman Python sesuai dengan gaya pemrogramannya dan dapat dijalankan dengan baik.


Berdasarkan pengamatan yang telah dilalui dengan Python, sehingga dapat dikatakan bahwa Python memiliki kemampuan yang sangat cepat. Sumber Code dapat dikompilasi menjadi bytecode, sehingga eksekusi file yang sama akan lebih cepat, jika script akan dieksekusi lagi.  

Bytecode adalah "bahasa perantara", yang didapat bekerja pada mesin virtual yang mengeksekusi kode mesin yang sesuai dengan masing-masing bytecode.

Membandingkan Python dengan Java, Perl dan Bahasa Pemrograman lainnya
Prof. Lutz Prechelt dari Universitas Karlsruhe membandingkan Python dengan bahasa pemrograman lainnya. Dia merangkum hasilnya: "80 implementasi dari seperangkat persyaratan yang sama dibandingkan untuk beberapa properti, seperti run time, konsumsi memori, panjang teks sumber, kepadatan komentar, struktur program, keandalan, dan jumlah usaha yang diperlukan untuk menuliskannya.  

Hasilnya menunjukkan bahwa, untuk masalah pemrograman yang diberikan, yang menganggap manipulasi string dan pencarian dalam kamus, 'bahasa scripting' (Perl, Python, Rexx, Tcl) lebih produktif daripada 'bahasa konvensional' (C, C ++, Java). Dalam hal waktu processing dan konsumsi memori, mereka sering berubah lebih baik dari Java dan tidak jauh lebih buruk daripada C atau C ++. Secara umum, perbedaan antara bahasa pemograman ini cenderung lebih kecil daripada perbedaan yang lebih spesifik karena pemrograman berbeda dalam bahasa yang sama.



Diterjemahkan secara bebas dari Python Course


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.