Indonesia Dalam Catatan Gempabumi

November 15, 2017

Gempabumi adalah bagian dari fenomena alam. Inilah cara bumi berdinamika untuk menyeimbangkan posisinya. Fenomena gempabumi bukanlah suatu ancaman dan bahaya jika terjadi pada wilayah yang tidak dihuni oleh manusia. Jika tanpa korban jiwa manusia ataupun risiko lainnya, maka gempabumi merupakan kejadian alam yang biasa saja.

Akan tetapi, hal ini akan berbeda jika gempa terjadi pada kawasan yang padat penduduk dan mengakibatkan runtuhnya bangunan kerugian harta benda. Gempabumi akan menjadi sesuatu yang menakutkan dan mengakibatkan risiko. Upaya pengurangan risiko menjadi hal penting dilakukan. Salah satunya adalah memperlajari perilaku dan mekanisme gempabumi. Mempelajari dan memahami perilaku gempabumi secara ilmiah selain pengembangan khazanah ilmu kebumian (seismologi) juga merupakan bagian dari upaya mitigasi bencana.

Secara pemahaman geologi dan tektonik, gempabumi terjadi pada zona-zona pertemuan lempeng dan juga sesar-sesar aktif yang ada di daratan maupun di lepas pantai. Dan Indonesia secara geografis berada pada zona pertemuan lempeng tersebut. Dalam beberapa dokumen publikasi ilmiah, setidaknya ada empat lempeng besar dunia yang mengelilingi wilayah negara indonesia. Keempat lempeng tersebut adalah Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, Lempeng Laut Filipina, dan Lempeng Pasifik. Semuanya aktif dan saling bertumbukan satu dengan yang lainnya. Keberadaan lempeng-lempeng tersebut sebagaimana diperlihatkan pada gambar 1.
Gambar 1. Peta tatanan tektonik wilayah Indonesia, garis-garis merah memperlihatkan keberadaan batas pertemuan lempeng-lempeng besar dunia yang mengelilingi Indonesia. (Sumber: Buku Peta Gempa Indonesia, PusGeN 2017)
Selain dari lempeng-lempeng besar sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya. Secara tektonik, wilayah Indonesia juga dipengaruhi oleh keberadaan beberapa lempeng-lempeng kecil yang bersifat lokal atau dikenal dengan istilah micro-block. Keberadaan lempeng-lempeng kecil ini teridentifikasi berdasarkan kajian yang terpadu, yaitu kajian geologi, geodesi dan seismologi. Beberapa lempeng-lempeng kecil yang terpetakan sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 1 di atas adalah Burma, Sunda, Laut Banda, Laut Maluku, Timor, Kepala Burung, Maoke, dan Woodlark (sumber Buku Gempa PunGeN, 2017).

Implikasi dari pertemuan lempeng tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang rawan gempabumi. Baca: Gempanesia, Negeri Gempa di Khatulistiwa. Sebaran kejadian gempa di wilayah Indonesia mulai dari tahun 2005 - 2016 diperlihatkan pada gambar 2. Data koordinat hiposenter dan besaran magnitudonya diperoleh dari katalog BMKG yang telah direkolasi. 
Gambar 2. Peta sebaran kejadian gempabumi di Indonesia (Sumber data: BMKG)


Beberapa gempa merusak dengan kekuatan yang signifikan pernah terjadi dalam 20 tahun terakhir. Seperti gempa yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004 (Mw 9.2), gempa di Nias 2005 (Mw 8.7), gempa di Jogjakarta 2006 (Mw 6.5), gempa di Pangandaran 2006 (Mw 7.8), gempa di Bengkulu 2007 (Mw 8.5), gempa di Padang 2009 (Mw 7.6), gempa di Mentawai 2010 (Mw 7.8) dan yang terakhir adalah gempa di Pidie Jaya (Mw 6.5). 

  







     

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.