Gempa Tasik dan Kewaspadaan Gempabumi di Selatan Pulau Jawa

Desember 18, 2017

Gambar 1. Sebaran kegempaan di Wilayah Pulau Jawa
Gempa di Selatan Jawa, menjadi trending topik di banyak media online. Setidaknya ada dua kejadian gempabumi pada Jumat malam (15 Desember 2017) pukul 23:04 WIB dan 23:47 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan laporan bahwa gempa pertama terjadi pada pukul 23:04 dengan bermagnitudo 4,5 berpusat pada koordinat  7,29 derajat Lintang Selatan (LS) dan 106,69 derajat Bujur Timur (BT) atau 48 km barat daya Sukabumi, Jawa Barat. Kemudian disusul gempabumi kedua pada pukul 23.47 WIB dengan kekuatan yang signifikan. BMKG mengumumkan bahwa kejadian gempabumi kedua dangan bermagnitudo 6,9 pada koordinat 7,75 derajat LS dan 108,11 derajat BT pada kedalaman 107 km.

Wilayah selatan Pulau Jawa merupakan zona yang rawan gempabumi. Hal ini sangat terkait dengan aktivitas tumbukan yang terjadi pada jalur pertemuan lempeng. Tumbukan lempeng samudera Indo-Australia dan lempeng benua Eurasia merupakan aktivitas tektonik yang terus terjadi sampai hari ini. Lempeng samudera Indo-Australia menumbuk dan menunjam ke bawah lempeng benua Eurasia dengan kecepatan relatif adalah 7 cm/tahun. Pada batas pertemuan kedua lempeng tersebut dikenal dengan zona subduksi yang dicirikan dengan adanya palung jawa(Java trench). Implikasi dari tumbukan tersebut adalah terjadinya gempabumi. Sebaran gempabumi yang terjadi di wilayah Pulau Jawa sebagaimana diperlihatkan pada gambar 1. Pada gambar 1, sebaran episenter gempa terlihat dengan jelas yang ditandai dengan linkaran berwarna. Gradasi warna pada lingkaran episenter memberikan informasi kedalaman sumber gempa. Warna merah menandakan sumber gempabumi yang lebih dangkal dibanding warna kuning, hijau dan biru.

Dalam kurun waktu satu dekade terakhir, setidaknya ada dua gempa merusak yang terjadi di selatan Pulau Jawa. Salah satunya adalah gempabumi yang terjadi di selatan Jawa Barat, tepatnya di daerah Pangandara tahun 2006. Gempabumi ini dikenal dengan nama Gempa Pangandaran, terjadi pada 17 Juli 2016 dengan magnitudo 6.8. Dampak ikutan yang terjadi akibat Gempa Pangandaran adalah gelombang tsunami yang mencapai ketinggian 2 meter. Tercatat sekitar 659 jiwa meninggal dunia dan puluhan rumah dan bangunan lainnya di pesisir selatan Jawa Barat hancur. Selain Gempa Pangandaran, selatan Jawa Barat juga pernah diguncang gempa pada 2 September 2009. Kekuatan magnitudo gempanya adalah 7.3 Mw, dan ini lebih besar dari kekuatan gempa Pangandaran 2006. Gempabumi ini dikenal dengan sebutan Gempa Tasik 2009. Gempa Tasik 2009 mengakibatkan dampak kerusakan yang signifikan untuk beberapa daerah di pesisir selatan Jawa Barat, seperti Ciamis, Tasik Malaya, Garut Selatan dan Cianjur Selatan.

Gempabumi yang terjadi pada 15 Desember 2017, posisinya berjarak sekitar 50 km arah utara dari posisi gempabumi yang terjadi pada 2 September 2009. Untuk itu, tidak salah rasanya jika gempabumi pada Jumat malam 15 Desember 2017 disebut dengan nama Gempa Tasik 2017. Secara mekanisme kejadian gempanya, Gempa Tasik 2009 mekanismenya sesar naik (thrusting) sedang Gempa Tasik 2017 mekanisme sesar mendatar yang terpengaruhi dengan sesar naik (oblique strike slip). Kedalaman sumber gempanya berbeda, Gempa Tasik 2009 terjadi pada kedalaman 46 km sedangkan Gempa Tasik 2017 terjadi pada kedalaman 107 km. Gempa Tasik 2017 relatif lebih dalam posisinya dan termasuk pada zona benioff. Pada Gambar kedua memberikan ilustrasi proses kejadian Gempa Tasik 2017.

Gambar 2. Lokasi Gempa Tasik 2009 dan 2017
Secara proses alami, gempabumi yang terpicu oleh aktivitas tektonik biasanya diawali dengan gempa awalan (foreshock), gempa utama (main shock) dan gempa susulan (after shock). Hal ini terlihat pada Gempa Tasik 2017 yang ditandai dengan gempa awalan (foreshock) pada pukul 23:04 dengan magnitudo 4.5. Kemudian disusul dengan gempa yang lebih kuat pada pukul 23:47, gempa kedua merupakan gempa utama (main shock). Selanjutnya diikuti oleh beberapa gempa susulan dengan magnitudo yang relatif lebih kecil dari gempa utama. Gempa-gempa susulan tetap bersumber pada wilayah yang sama dengan gempa utama dan merupakan bagian dari proses menuju kesetimbangan mekanika batuan yang terpatahkan akibat gempa utama.

Jika merusuk pada historikal kejadian gempabumi di selatan Pulau Jawa. Beberapa kejadian gempabumi yang merusak pernah terjadi, seperti Gempa Pacitan tahun 1859 dengan perkiraan kekuatannya lebih dari 7. Kemudian 1867 terjadi di Yogyakarta, kekuatannya diperkirakan sekitar 8 yang menewaskan sekitar 500 orang. Selain itu pada 11 September 1921, pernah terjadi gempa yang posisinya berdekatan dengan gempa bumi yang terjadi pada 17 Juli 2006 di Pangandaran. Terakhir tahun 1994, terjadi gempa dengan kekuatan 7.2 yang memicu gelombang tsunami di Banyuwangi.

Potensi bahaya kegempaan di selatan Jawa menjadi perhatian para peneliti kegempaan di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa jumlah peduduk di pulau Jawa pada tahun 2017 mencapai angka  149 juta jiwa. Angka ini memberikan arti bahwa 57 persen atau lebih dari setengah penduduk Indonesia ada di Pulau Jawa. Selain jumlah penduduk, Pulau Jawa juga memiliki beberapa kawasan strategis, termasuk salah satunya adalah Jakarta sebagai Ibu Kota Negara Indonesia. Hal menjadi alasan kuat menjadikan potensi risiko yang sangat signifikan jika terjadi gempabumi dengan magnitudo yang besar di selatan Jawa.

Topik-topik tentang potensi gempa di selatan Jawa menjadi viral dan hangat untuk didiskusikan. Topik ini juga menjadi salah satu topik diskusi pada International Symposium on Earth-hazard and Disaster Mitigation (ISEDM) 19 - 21 November 2017 lalu. Dalam diskusi tersebut terungkap adanya Keberadaan zona seismic gap di selatan Jawa yang mengindikasikan adalah akumulasi energi gempa yang berpotensi kejadian gempa dan mungkin tsunami di kemudian hari. Hal ini menjadi penting untuk diwaspadai mengingat beberapa gempa besar pernah terjadi pada masa lampau, yaitu gempa tahun 1780 dan 1834 yang pernah terjadi di dekat Jakarta.

Indonesia khususnya wilayah Jawa memiliki potensi risiko dan bahaya gempabumi tinggi dari yang dipahami. Untuk itu penelitian sebagai salah satu upaya untuk memahami dan mempelajari perilaku gempabumi perlu terus dilakuka. Keberdaan Peta bahaya gempa Indonesia sudah diterbitkan oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PusGen). Peta ini menjadi panduan bagi semua pihak untuk melakukan upaya-upaya pengurangan risiko bencana yang mungkin terjadi akibat gempabumi. Kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat adalah hal yang juga tidak kalah penting. Penyampaian hasil riset dalam bahasa populer dan mudah dipahami adalah satu upaya memberikan pemahaman dan kesiapsiagaan di masyarakat. 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.