Gempa Lombok, Sebuah Catatan Penting

Agustus 05, 2018
Catatan ini ditulis oleh Prof Hery Harjono yang telah banyak beredar di media sosial. Admin mencoba mendokumentasikan cacatan ini dalam blog seisnote dengan tujuan untuk menjadi pengingat dan renungan bagi kita. Bahwa, kejadian Gempa Lombok menjadi sebuah catatan penting untuk merubah paragdigma kita dalam memahami dinamika bumi yang dampak gempa yang ditimbulkan dari proses dinamika tersebut. 

Seminggu ini kita dikejutkan oleh dua gempa yg menghantam Lombok Utara. Dari sisi geologi, pada dasarnya tidak ada yang aneh dari dua gempa yang datang hampir berurutan ini.  Tahun 1979 Lombok juga Bali Utara digoncang gempa bahkan saat itu diikuti tsunami. Tahun 1992 gempa dan tsunami dahsyat menghantam Flores. 

Dampak kerusakan skibat Gempa Lombok Mag. 7.0 pada 5 Agustus 2018 (sumber: info grafik BNPB)
Kenapa gempa muncul disana? Kalau kita cermati, di utara Flores hingga Lombok terdapat patahan atau sesar yang memanjang sejak dari Flores hingga Lombok. Patahan ini sebagai respons terhadap desakan Kontinen Australia. Patahan yg disebut Flores Thrust (Patahan Naik Flores) ini berada di bawah laut. Kenampakannya dari rekaman seismik refleksi (alat untuk melihat anatomi kerak bumi) sangat jelas. Dari ujung timur Laut Flores, tampak dasar laut terpatahkan, dimana bagian utara menyusup ke bawah.  Patahan itu dapat diikuti dengan jelas hingga Lombok. Di utara Bali, deformasi melemah atau tidak sekuat di bagian Lombok. Kebetulan pada  tahun 1981saya ikut Ekspedisi Marine Geology - Rama 12 yg memetakan patahan ini. Ekspedisi dg menggunakan kapal riset R/V Thomas Washington ini dipimpin oleh Prof. Eli  Silver dari University of California Santa Cruz. 

Data gempa, baik lokasi gempa maupun focal mechanism (mekanisme pusat gempa) ke dua gempa jelas berhubungan dengan keberadaan Flores Thrust. 

Baca: Monitoring Aftershock dari Gempa Lombok 29 Juli 2018

Lantas apa yang penting (harus) dilakukan? Sejatinya baru Sumatra yang kita ketahui tentang kegempaannya. Selebihnya tak banyak kita ketahui. Jawa pun hanya sedikit yang kita ketahui. Saya kira kita perlu mempelajari deformasi yang terjadi di sepanjang Flores Thrust. Problemnya, letaknya ada  di bawah laut. Apa boleh buat. Kita perlu memetakan patahan itu lebih detil. Untuk itu perlu membuat jaringan (temporary)  OBS (Ocean Bottom Seismograph) untuk memetakan pola gempa, dan tentu saja kapal riset untuk memetakan anatomi patahan. Studi deformasi dg menggunakan GPS amat perlu. Kita beruntung ada beberapa pulau di utara NTB dan NTT yang memungkin kita menempatkan GPS. 

Akhirnya sebagai catatan penutup, sebaiknya kita merubah pola pikir. Selama ini riset-riset gempa tak banyak beranjak. Kalaupun ada itu tidak menjadi fokus utama institusi. Kalau pun ada itu atas usaha para peneliti dengan menggalanng kerjasama dengan mitra LN. Bagaimana mungkin negara yang dikepung gempa dan gunung api seperti tak peduli. Kita baru terkejut kalau bencana itu datang.




Penulis:
Hery Harjono
*Kapus Puslit Geoteknologi LIPI 2001-2006
*Deputi Kepala LIPI Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian 2006-2011

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.