Monitoring Aftershock dari Gempa Lombok 29 Juli 2018

Agustus 04, 2018
Gempa Lombok pada 29 Juli 2018 memberikan dampak kerusakan yang signifikan. Gempa ini tergolong gempa yang merusak. BMKG merilis Gempa Lombok bermagnitudo 6.4, posisi hiposenter pada kedalaman 10 km. Sampai dengan tanggal 3 Agustus 2018, berdasarkan laporan BMKG ada 539 kejadian gempa susulan dan 49 hempa yang dirasakan (Gambar 1).  Hal tersebut merupakan hal yang lumrah, karena setiap gempa yang terjadi dengan kekuatan signifikan akan memberikan dampak gempa susulan.  

Gambar 1. Histogram kejadian gempa susulan sampai dengan 3 Agustus 2018 sebanyak 539 kejadian (sumber BMKG)
Setiap kejadian gempa memberikan pemahaman baru tentang sumber dan perilakunya. Salah satu hal yang dilakukan uituk memahaminya adalah menempatkan sejumlah seismometer di sekitar gempa utama untuk monitoring oempa susulan (aftershock). Gempa susulan menjadi salah satu hal penting bagi seorang seismologi untuk memahami dimanika yang terjadi dibawah permukaan bumi.

Tiga hari setelah gempa Lombok, Tim dari Kelompok Keilmuan Geofisika Global - FTTM ITB yang diwakili oleh Dr. Zulfakriza dan Yayan M. Husni, MT berangkat ke Lombok dengan membawa tujuh unit seismometer. Tujuh unit seismometer tersebut terdiri dari 2 Broad Band, 2 Shortperiode dan 3 Borehole seismometer (Gambar 2).  

Lokasi penempatan ketujuh seismometer mengitari Pulau Lombok, mulai dari sisi salatan, timur, barat dan utara.  Fokus utamanya adalah mencakupi lokasi titik gempa utama sebagaimana yang diriliş oleh BMKG, yaitu terletak pada kordinat 8,28 LS dan 116,64 BT atau tepatnya pada jarak 27 km arah Timur Laut Lombok Timur NTB. 

Gambar 2. Lokasi penempatan seismometer

Pemilihan lokasi penempatan seismometer mempertimbangkan tiga hal, yaitu kemudahan akses dan keamanan serta terhindar dari hal-hal yang mengakibatkan gangguan sinyal, seperti laju kenderaan dan aktivitas manusia lainnya. Dari ketiga hal tersebut di atas, keamanan merupakan hal yang menjadi pertimbangan utama. Untuk itu, lokasi pemasangan diusahakan pada kantor-kantor pemerintahan atau di halaman belakang rumah warga. 

Seismometer ditanam dalam dua galian, galian pertama berbentuk kotak dengan dimensi 40 cm x 60 cm dan  kedalaman 40 cm yang difungsikan untuk aki serta data logger.  Sedangkan, untuk sensor ditempatkan galian kedua berbentuk tabung dengan diameter 20 cm dan kedalaman 30 cm (Gambar 3).  

Gambar 3. Instalasi seismometer pada salah satu lokasi  di Lombok Utara
Monitoring gempa susulan Gempa Lombok dilakukan selama satu bulan. Harapannya, selama sat bulan, tujuh seismometer yang ditempatkan dapat merekam gempa-gempa susulan/lanjutan dengan bak dan tanpa gangguan.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.