Survei Pasca Gempa, Buat Apa Sih?

Agustus 04, 2018
Gempa bumi adalah fenomena alam yang belum bisa diperkirakan waktu kejadiannya, setidaknya sampai artikel ini ditulis. Banyak hal yang masih misteri bagi para ahli kegempaan untuk memastikan waktu kejadian gempa bumi. Oleh sebab itu, konsentrasi mereka adalah pengurangan risiko yang terjadi akibat gempa bumi.
Seperti yang sering dikampanyekan, bahwa gempa bumi tidaklah membunuh, akan tetapi bangunan rubuh yang membunuh. Artinya, sebuah bangunan dengan struktur atau konstruksi yang runtuh akibat goncangan gempa menjadi penyebab korban jiwa.
Gempa bumi bermagnitudo 6,4 mengguncang wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu (29/7/2018) pukul 05.47 WIB. Gempa menyebabka korban jiwa dan luka serta rusaknya rumah warga.
Kerusakan bangunan akibat Gempa Lombok, 29 Juli 2018 (sumber foto BNPB)
Setiap kejadian gempabumi, tentu akan memberikan pembelajaran penting. Setidaknya ada tiga aspek pembelajaran yang menarik untuk dipahami dari setiap kejadian gempa bumi, yaitu secara enginering, sains dan sosial. Ketiga aspek tersebut menjadi penting untuk memahami prilaku gempa bumi dan dampaknya pada risiko yang mungkin terjadi.
Beberapa saat setelah kejadian gempa bumi menjadi sebuah moment penting, terutama bagi pemerhati dan peneliti gempa bumi. Hal ini dikarena setiap kejadian gempa bumi menyimpan pelajaran berharga. Sehingga para ahli kegempaan melakukan beberapa item survey langsung di lokasi kejadian.
Belajar dari beberapa kejadian gempa yang pernah terjadi, seperti Gempa Pidie Jaya 2016, Gempa Tasik (2017) dan Gempa Lombok 2018. Setidaknya ada beberapa hal yang dilakukan beberapa saat setelah kejadian gempabumi, yaitu:
  1. Pemetaan kerusakan bangunan akibat gempa bumi
  2. Merekam gempa susulan untuk memahami mekanisme gempa
  3. Pemantauan retakan di permukaan (surface rupture)
  4. Pemantauan kerentanan tanah dan likuifaksi
  5. Melakukan survey prilaku sosial masyarakat saat dan paska kejadian bencana
Kelima upaya yang dilakukan di atas merupakan langkah awal untuk memahami fenomena gempa bumi. Data-data yang diperoleh pada langkah awal ini diramu dan dianalisis untuk menjadi informasi yang bermanfaat untuk pengurangan risiko gempa bumi di kemudian hari. Dan itu yang menjadi tujuan kita, yaitu berusaha mengurangi dampak risiko dari kejadian gempa bumi yang pernah terjadi sebelumnya.
Bagi seorang seismologi, beberapa hari setelah kejadian gempa bumi adalah momen yang penting. Sesaat setalah gempa utama, biasanya disusul dengan beberapa gempa susulan. Gempa susulan ini memberikan pemahaman baru tentang sumber dan mekanisme gempa bumi. Pemantauan gempa-gempa susulan dilakukan dengan menempatan sejumlah seismometer yang dipasang selama lebin kurang satu bulan setelah kejadian gempa. 
Sembari memasang seismometer, Tim Seismologi juga melakukan survey kerusakan bangunan secara cepat. Sebaran kerusakan bangunan dapat dikuantifikasi dalam bentuk peta isoseismal yang bisa menjadi rujukan untuk melihat pola intensitas gempa yang terjadi.    







Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.