Aplikasi Metoda Geofisika untuk Pembangunan Waduk dan Bendungan (Pre-Event Workshop Session II)

September 24, 2018
Workshop Pre Event Sesi Pertama sebelumnya fokus untuk membahas tentang aplikasi metoda geofisika untuk kebutuhan pembangunan jalan dan jembatan.  Beberapa metoda geofisika seperti geolistrik, GPR, seismic refraksi dan miktrotremor sangat memungkinkan untuk diaplikasikan untuk memahami struktur dekat permukaan. Informasi struktur dekat permukaan menjadi salah satu parameter desain jalan, terlebih lagi pada jalan atau jembatan yang berada pada wilayah yang memiliki kondisi geologi yang remit.

Baca: Pre event PIT HAGI Sesi I

Pada sesi yang kedua, topik pre-event workshop kolaborasi HAGI-Kementrian PU-PR fokus pada perencanaan waduk dan bendungan. Bagus Sapto Mulyanto, MT sebagai moderator membuka sesi kedua perkenalan dua narasumber. Sesi ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Dr. Andri Dian Nugraha (ITB) dan Ahmad Taufik, Ph.D (Pusair-Kementrian PUPR). 

Kedua narasumber memiliki kapasitas yang mumpuni untuk membicarakan topik tentang bendungan dan aplikasi geofisika. Dr. Andri Dian Nugraha mengangkat judul   Monitoring Mikroseismik untuk Waduk dan Bendungan. Mikroseismik dapat terjadi akibat adanya aktivitas induce seismisity. Induce seismicity dapat terjadi oleh beberapa hal, yaitu (1) Ekstraksi Migas yang mengakibatkan perubahan densitas, (2) Shale gas fracking, (3) Injeksi dan produksi panas bumi, (4) Tambang bawah tanah, (5) Tambang permukaan dan (6) Reservoar bendungan. Dari keenam induce seismicity tersebut, secara statistik induce seismicity dominan dipengaruhi oleh adanya reservoar bendungan dan urutan keduanya adalah aktivitas pertambangan.

Aktivitas gempa-gempa kecil yang terjadi di sekitar bendungan sangat penting untuk dipantau. Pemantauan mikroseismik di subuah reservar bendigan harus dilakukan sebelum pengisian, saat pengisian dan setelah pengisian. Fluktuasi naik turun tekanan akibat pengisian reservoar diyakini akan mempengaruhi kondisi tektonik lokal.

Sedangkan Ahmad Taufik, Ph.D memberi gambaran umum tentang perkembangan bendungan yang ada di Indonesia. Secara tingkat risiko, sebuah bendungan termasuk salah satu infrasruktur high risk building, jika dinding bendung memiliki tinggi lebih dari 15 m. Oleh karena itu, pembangunan bendungan harus melewati proses yang panjang mulai dari studi kelayakan, rencangan awal, rancangan lanjutan dan rencangan akhir. Sebelum proses konstruksi, sebuah rancangan bendungan juga harus melewati uji AMDAL. Setiap proses pembangunan bendungan membutuhkan keilmuan geofisika.  

Ada tiga hal yang munkin dapat mengkibatkan kerusakan sebuah bendungan. Ketiga hal itu adalah banjir, kegagalan struktur dan gempa bumi. Untuk itu, dalam pembangunan sebuah bendungan harus memperhatikan dan melakukan  Geophysical Survey, Awarness of DAM safety dan Integrated System of Instrumention.    

Gempabumi adalah salah satu bagian yang menjadi fokus yang dikupas. Sebagaimana sebelumnya dikemukakan oleh Dr. Andri tentang induce seismicity karena reservoar bendungan. 

Foto bersama pembicara, moderator dan Ketua Panitia PIT HAGI Semarang 2018




Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.