Gempa Langsa, Kok Bisa?

[Bandung, seisnote.com] Kota Langsa yang berada di bagian timur Aceh diguncang gempabumi pada Kamis (27 September 2018) sekitar pukul 17:51 (UTC) atau 00:51 (WIB). BMKG melaporkan bahwa gempa terjadi pada kedalaman 10 km dengan magnitudo 5.3. Sedangkan USGS dan GFZ mengumumkan magnitudo 5.1. Pusat gempa berada di darat sekitar 17 km arah baratlaut Kota Langsa. 

Berdasarkan skala intensitas yang dirilis oleh BMKG, Kota Langsa berkisar antara III - IV, sedangkan Takengon dan Medan intensitasnya masing-masing II. Gempabumi yang terjadi dalam skala intesitas III-IV, sebagaimana yang ditafsirkan oleh BMKG, merupakan gempa yang dirasakan oleh orang banyak tetapi tidak menimbulkan kerusakan, benda-benda ringan yang bergantung akan bergoyang dan jendela kaca bergetar. Oleh karena itu, gempa yang terjadi di Langsa, Aceh tergolong gempa yang tidak merusak.

Dalam sudut pandang seismologi, setiap gempabumi  memberikan informasi dan pemahaman baru tentang prilaku gempabumi. Terlebih lagi jika gempabumi terjadi dengan magnitudo lebih dari 5, kedalaman kurang dari 20 km dan lokasinya pada daerah yang jarang terjadi. 

Merujuk pada analisis mekanisme fokus yang dikeluarkan oleh gfz-potsdam, Gempa Langsa dipicu oleh adanya aktivitas sesar naik sedkit miring (oblique) dengan dip relatif landai (29 derajat) dan strike 141 derajat arah utara selatan (Gambar 1). Kedalaman posisi gempa yang relatif dangkal. 
Gambar 1. Peta lokasi kejadian Gempa Langsa (lingkaran merah) dan mekanisme fokus kejadian gempa (sumber : gfz-postdam)
Hal ini berbeda dengan beberapa gempa yang pernah terjadi di daratan Aceh. Beberapa gempa tersebut  dipicu oleh aktivitas sesar geser pada kedalaman hiposenternya sekitar 10km. Seperti, Gempa Takengon magnitudo 6.1 (2013), Gempa Pidie Jaya magnitudo 6.5 (2016) dan Gempa Geumpang magnitudo 5.3 (Februari 2018). 

Kejadian gempa magnitudo 5.3 dengan mekanisme fokus sesar naik (thrusting) pada kedalaman 10 km menimbulkan tanda tanya. Secara mekanisme fokus, Gempa Langsa sama dengan Gempa Lombok, yaitu sama-sama dipicu oleh sesar naik dan pada kedalaman yang dangkal. Sumber Gempa Lombok sementara ini dugaannya akibat adanya aktivitas sesar naik di utara Lombok. Beberapa sumber menyebutkan Flores Back Arc Thrust. 

Namun bagaimana dengan Gempa Langsa? 

Wilayah Aceh memiliki tatanan tektonik yang rumit. Setidaknya ada dua aktivitas tektonik yang mengontrol tatanan tektonik di Aceh, yaitu (1) zona subduksi yang ada di lepas pantai barat Aceh dan (2) Zona Sesar Sumatra yang merupakan implikasi dari tunjaman di zona subdusi. Zona Sesar Sumatra sebagai sebuah sistem sesar utama yang memanjang mulai dari Kota Banda Aceh menerus sampai Kota Agung di Lampung. Beberpa kejadian gempa di daratan Aceh terpicu akibat aktivitas Sesar Sumatra dan beberapa sesar pencabangannya. 

Barber & Crow, tahun 2005, dalam bukunya Sumatra: Geology, Resources and Tectonic Evolution menggambarkan fitur-fitur tektonik yang ada didaratan Aceh (Gambar 2). Akan tetapi di bagian timur Aceh (Langsa dan sekitarnya) tidak terlihat adanya fitur sesar naik.

Gambar 2. Peta seismotektonik wilayah Aceh yang mengambarkan beberapa kelurusan sesar (sumber. Sumatra: Geology, Resources and Tectonic Evolution oleh Barber & Crow, tahun 2005)
Hal ini yang menjadi menarik, karena berdasarkan hasil rekaman seismometer dan pehitungan mekanisme fokus yang dipublikasikan oleh gfz-postdam menunjukkan Gempa Langsa terpicu oleh aktivitas sesar naik. Tetapi secara tatanan tektonik tidak terlihat adanya fitur sesar naik. Kok bisa??

Investigasi lebih lanjut perlu dilakukan untuk memahami sumber Gempa Langsa secara lebih baik. Hal ini menjadi penting sebagai upaya untuk pengurangan risiko akibat  gempabumi.  



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.