Jejak Sejarah Gempa dan Tsunami Di Sulawesi

Kita sebagai bangsa kembali berduka. Duka yang mendalam untuk saudara-saudara yang tertimpa bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala. 

Kejadian gempabumi pada 28 September 2018 pukul 17:02 (WIB) mengguncang Palu dan Donggala bukanlah yang pertama di tahun 2018. Lebih kurang dua bulan sebelumnya, tepatnya pada 29 Juli 2018, Gempa Lombok yang terjadi secara beruntun. Kedua kejadian ini memberikan dampak kerusakan dan korban jiwa yang signifikan. Terlebih lagi beberapa saat setelah gempa magnitudo 7.5 terjadi, gelombang tsunami menerjang sebagian kota Palu dan Donggala.

Rangkaian gempa yang terjadi di Palu diawali dengan gempa magnitudo 5.9 pukul 14:00 (WIB), kemudian disusul gempa magnitudo 5.0 pukul 14:28 (WIB), dilanjutkan gempa dengan magnitudo 5.3 pukul 15:25 (WIB). 

Pukul 17:02 (WIB) terjadi gempa berkekuatan yang lebih besar dari gempa-gempa sebelumnya, yaitu magnitudo 7.5 dengan posisi yang berdekatan dengan tiga gempa sebelumnya. Akvititas gempa-gempa susulan masih terjadi, pukul 17:14 terjadi gempa magnitudo 6.1, dan pukul 17:25 kembali terjadi gempa magnitudo 5.9.  Semua gempa tersebut terjadi pada kedalaman yang relatif dangkal, yaitu sekitar 10 km.  
Gambar 1. Sebaran gempabumi yang terjadi di Palu dan Donggala pada 28 September 2018 yang ditandai dengan lingkaran merah. Perbedaan ukuran lingkaran merah memberikan indikasi ukuran magnitudo. Kelurusan sesar dicirikan dengan garis hitam (sumber data: USGS)
Berdasarkan laporan BMKG, sampai dengan 30 September 2018 pukul 00:00, setidaknya terjadi 170 gempa di Palu dan Donggala. Pola sebaran gempabumi (seismisitas) pada kemenerusan sesar yang dikenal dengan Sesar Palu Koro. Sesar Palu Koro merupakan sesar aktif dengan pola pergerakannya mengiri (sinistral). 
Socquet dkk., (2006) menghitung pergerakan Sesar Palu Koro dengan menggunakan pengamatan Global Positioning System (GPS). Hasil estimasi dan pemodelan yang dilakukan oleh Socquet dkk., (2006) mendapatkan angka pergeseran (slip-rate) Sesar Palu Koro adalah 42 mm/tahun. 

Catatan Kegempaan di Sulawesi

Palu dan wilayah Sulawesi secara keseluruhan bukanlah wilayah yang sepi gempa. Beberapa gempa diantara pernah membangkitkan gelombang tsunami. Artinya secara tektonik, wilayah ini berada pada zona tektonik aktif yang menjadi sumber terjadi gempabumi. Keberadaan sesar Palu Koro merupakan salah satu bukti keaktifan tektonik di Sulawesi Tengah dan Barat.

Berdasarkan data katalog utsu, ada beberapa kejadian gempa merusak yang terjadi di Sulawesi termasuk Palu dan Donggala (Gambar 2). Beberapa dari kejadian gempa tersebut membangkitkan gelombang tsunami. 

Gempa 1848 adalah salah satu gempa yang membangkitkan gelombang tsunami. Pada masa itu belum ada pengukuran magnitudo, akan tetapi katalog utsu memberikan angka 7.0. Gempa ini memberikan dampak kerusakan yang signifikan dan korban jiwa 56 orang, serta membangkitkan gelombang tsunami yang melanda Menado, Minahasa, dan Tomohon.

1 December 1927 terjadi gempa di Teluk Palu tepatnya pada koordinat lat 0.7 S dan lon 119.7 E (Prasetya, dkk., 2001). Gempa ini diduga akibat adanya aktivitas sesar Palu Koro. Gempa dengan magnitudo 6.3 membangkitkan gelombang tsunami stingi 15 m. Dilaporkan 14 orang meninggal dunia dan 30 orang mengalami luka-luka. 

Mengacu pada katalog utsu, gempa tabun 1938 adalah gempa yang juga membangkitkan gelombang tsunami. Gempa merusak dengan magnitudo 7.9 terjadi pada koordinat lat -1.00 dan Lon 120.00, berdekatan dengan Palu dan Donggala. Guncangan akibat gempa terasa di sebagian besar wilayah  Sulawesi dan bagian timur Kalimantan. Kawasan Teluk Kota Parigi Moutong di Timur Kota Palu menjadi lokasi yang paling series terdampak bencana. Gelombang Tsunami yang dibangkitkan dari Gempa 1938 melanda wilayah Parigi, merobohkan lebih dari 900 rumah warga dan mengakibatkan korban meninggal dunia 16 orang. Beberapa bangunan dan infrastructur yang dibangun Belanda masa itu rusak, sepeti dermaga dan mercusuar.
Gambar 2. Kejadian gempabumi pada masa lampau berdasarkan data katalog utsu yang terjadi di Sulawesi ditandai dengan bulatan merah. Kelurusan sesar dicirikan dengan garis hitam 
Catatan berikutnya sebagaimana ada dalam katalog utsu adalah gempa yang terjadi pada 14 Agustus 1968. Gempa bumi dengan magnitudo 7.4 pada kedalaman 23 km yang terjadi akibat aktivitas sesar Palu Koro. Gempa ini membangkitkan gelombang tsunami setinggi lebih dari 10 meter dan mengakibatkan korban jiwa sedikitnya 200 orang. 

Tahun 1996, gempa magnitudo 7.6 kembali terjadi. Gempa ini tergolong gempa yang merusak. Selain merusak juga memicu bangkitnya gelombang tsunami. Tercatat 10 orang meninggal dunia akibat gempa dan tsunami yang melanda Minahasa. Berikutnya adalah gempa yang terjadi tahun 2000 dengan magnitudo 7.5. Gempa ini juga membangkitkan gelombang tsunami yang melanda Luwuk, Banggai dan Peleng. Kejadian gempa dan tsunami tahun 2000 mengakibatkan korban meninggal sejumlah 46 orang dan 264 orang luka-luka.

2018, gempa dan tsunami kembali berulang di Palu dan Donggala. Gempa beruntun yang diawali dengan gempa magnitudo 5.9 pada pukul 14:00 (WIB). Berselang tiga jam, gempa dengan magnitudo yang lebih besar, yaitu 7.5 (USGS) mengguncang Palu dan Donggala. Goncangan terasa sampai Minahana, Gorontalo dan Makasar. Berdasarkan laporan BNPB sampai dengan 30 September 2018, korban meninggal dunia mencapai 832 orang.


Referensi:
Prasetya, G. S., De Lange, W. P., & Healy, T. R. (2001). The Makassar Strait  Tsunamigenic Region, Indonesia. Natural Hazards, 24, 295-307

Socquet, A., W. Simons, C. Vigny, R. McCaffrey, C. Subarya, D. Sarsito, B. Ambrosius, and W. Spakman (2006), Microblock rotations and fault coupling in SE Asia triple junction (Sulawesi, Indonesia) from GPS and earthquake slip vector data, J. Geophys. Res., 111, B08409, doi:10.1029/2005JB003963.



    


Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.