Luncheon Talk HAGI: Ada Apa dengan Gempa Lombok?

September 17, 2018
Rangkaian gempa bumi yang terjadi di Lombok pada Juli dan Agustus 2018 memberikan pemahaman baru tentang dinamika tektonik di Bali dan Nusa Tenggara.


Rangkaian Gempa Lombok 2018 diawali oleh gempa pada hari Minggu, 29 Juli 2018 pukul 05.47 WIB. Gempa berkekuatan Magnitudo 6,4 berada pada posisi 8,35 LS dan 116,50 BT (Gambar 1B), atau tsekitar 47 km arah timur laut Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat pada kedalaman 24 km. Kejadian gempabumi ini mengakibatkan kerusakan bangunan dan longsoran di perbukitan jalur pendakian Gunung Rinjani. Berdasarkan laporan BNPB pada 30 Juli 2018 menyebutkan 16 orang meninggal dan lebih dari 10.000 bangunan rumah yang rusak. Sekitar 585 gempa susulan terjadi sampai dengan tanggal 5 Agustus 2018 pukul 07.00. 

Gambar 1. A. Sebaran gempa yang terjadi di Lombok, lima gempa besar ditandai dengan lingkaran hitam kombinasi biru yang memberi informasi mekanisme fokus sesar naik. Sedangakan lingkarang merah adalah sebaran gempa susulan yang terjadi mulai tanggal 29 Juli – 20 Agustus 2018. Pola sebaran gempa susulan yang dipilih setelah kejadian gempa besar magnitudo 6,4 (1.B), magnitudo 6,9 (1.C), magnitudo 5,9 (1.D) dan magnitudo 6,3 & 6,9 (1.E)

Gempa besar yang kedua terjadi pada hari minggu,  5 Agustus 2018 pukul 18.46 WIB. Gempa kedua ini pada koordinat 8,37LS dan 116,48 BT memiliki magnitudo 6,9 (Gambar 1C)  dengan kedalaman sumbernya 34 km. Berselang empat hari, tepatnya pada 9 Agustus 2018 pukul 12.25 WIB, gempa dengan kekuatan 5.9 (Gambar 1D) terjadi pada koordinat 8,36 LU dan 116,22 BT. Posisi gempa ketiga lebih ke barat dan berbeda dengan gempa pertama dan kedua yang saling berdekatan di bagian utara Lombok. Sekitar 10 hari setelah gempa ketiga tepatnya 19 Agustus 2018, Gempa dengan kekuatan lebih besar dari magnitudo 6.0 kembali terjadi di Lombok. Kedua gempa tersebut  memiliki magnitudo 6,3 terjadi pada pukul 11.10 WIB dan magnitudo 7,0 terjadi pada pukul 21.56 WIB (Gambar 1E). Lima gempa besar sebagaimana dijelaskan pada bagian sebelumnya memberikan pola gempa susulan (Gambar 1A) yang unik dan menarik untuk dipahami lebih dalam

Diskusi tentang Gempa Lombok merupakan salah satu topik diskusi yang menarik. Banyak hal yang yang belum dipahami tentang rangkaian kejadian Gempa Lombok. Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) sebagai salah satu asosiasi profesi ahli geofisika memandang pentingnya membicarakan fenomena Gempa Lombok dalam ruang diskusi ilmiah populer. Diskusi ilmiah populer ini digelar pada waktu istirahat siang, sehingga kegiatan diskusinya diberi nama Luncheon Talk.

Luncheon Talk HAGI bertajuk "Ada Apa dengan Gempa Lombok" digelar pada Hari Kamis, 13 September 2018 di Hotel Kartika Chandra. Acara ini dihadiri lebih dari 100 orang dari berbagi keahlian dan keilmuan. Ibu Rusalida selaku Presiden HAGI membuka Luncheon Talk HAGI dengan menyampaikan bahwa peran HAGI peduli Lombok tidak hanya dalam tataran keilmuan dan edukasi masyarakat, akan tetapi juga membantu penyediaan air bersih untuk korban bencana Gempa Lombok.

Topik yang menarik dan hangat ini dikupas oleh tiga narasumber, yaitu Dr. Daryono (BMKG), Dr. Irwan Meilano (ITB) dan Dr. Zulfakriza (ITB). Ketiga pembicara tersebut adalah anggota aktif HAGI. 

Gambar 2. Foto para pembicara bersama Dr. Andri Dian Nugraha (Moderator) dan Pak Arif (Sekjen HAGI)  












Pembicara pertama, Dr. Daryono memaparkan tentang kondisi seismotektonik di Bali dan Nusa Tenggara berdasarkan data sejarah kegempaan yang terjadi pada masa lalu. Pola kegempaan menunjukkan ada beberapa bagian di utara Lombok yang jarang terjadi gempabumi. Gambaran ini memberikan pemahaman tentang adanya zona seismic gap. Selain memaparkan seismotektonik, Dr. Daryono juga menjelaskan tentang hasil relokasi hiposenter dari jaringan regional BMKG. 

Pembicara kedua, Dr. Irwan Meilano mengajak peserta diskusi untuk sama-sama memahami rangkaian fenomena Gempa Lombok dalam keterbatasan dan ketidakpastian. Kejadian Gempa Lombok menyadarkan para peneliti gempa bahwa masih keterbatasan, baik itu keterbatasan pemahaman, keterbatasan perelatan dan keterbatasan anggaran. Belum lagi prilaku gempabumi yang memiliki angka ketidakpastian yang tinggi. Untuk itu, menjadi salah satu hal penting bagi setiap pemangku kepentingan untuk memahami kondisi ini. 

Sedangkan Dr. Zulfakriza, sebagai pembicara ketiga menunjukkan hasil rekaman kejadian lima gempabumi yang terekam pada jaringan seismograf lokal. Jaringan seismograf lokal  sebanyak 13 unit terpasang di Lombok sejak tanggal 2 Agustus 2018. 
Baca: Aktivitas Pemantauan Gempa Susulan       
Hasil rekaman seismograf dapat memberikan informasi mengenai mekanisme sumber gempa,  geometri,  estimasi luas segmen, dan struktur seismik 3D dari tomografi. 

Tujuan lebih lanjut dari kegiatan ini adalah untuk usaha mitigasi bencana gempa bumi dan pemahaman potensi gempa di masa yang akan datang.












2 komentar:

  1. seismisitas Lombok utara koq mengikuti garis pantai Lombok Utara ya - bisa dipasang geophone sepanjang pantai untuk men trigger ALERT gempa bumi

    BalasHapus
  2. Identifikasi gempa berdasarkan kajian lintas ilmu pada prinsipnya dalam rangka Mitigasi. Namun disaat saat seperti sekarang, terkait dengan rehab rekon, maka mitigasi hendaknya dapat mengedukasi masyarakat setidaknya lebih dari 30 % dari kontens. Semisal bahwa Produk Gunung api Rinjani adalah mendampingi ketersediaan bahan baku beton ringan yang harus dimanfaatkan.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.