Diskusi Terbuka HAGI: Pembelajaran Gempa Lombok dan Palu-Donggala 2018

Oktober 29, 2018
Kurang dari dua bulan, wilayah timur Indonesia dilanda dua kejadian gempabumi yang merusak. Pertama adalah rangkaian gempa yang terjadi di Lombok diawali dengan gempa magnitudo 6.4 yang terjadi pada 29 Juli 2018, kemudian 5 Agustus 2018 dengan magnitudo 6.9 dan 19 Agustus 2018 dengan magnitudo 7.0. 

Sedangkan yang kedua adalah kejadian gempa di Palu pada 28 September 2018. Bahkan kejadian gempa di Palu memberikan dampak kerusakan yang sangat signifikan. Kondisi ini diperparah oleh adanya gelombang tsunami yang menerjang pantai Palu, Sigi dan Donggala, serta terjadinya likuifaksi yang sangat masif.  

Kedua kejadian gempabumi, tsunami dan likuifaksi memberikan pembelajaran penting bagi kita untuk bersikap bijak dan lebih siaga. Terutama kesiap siagaan dan langkah pengurangan risiko bencana pada wilayah-wilayah yang memiliki potensi terjadinya bencana gempabumi.

Menanggapi hal ini, Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) sebagai sebuah asosiasi profesi dalam ilmu kebumian memandang perlu untuk mengambil pelajaran dari dua kejadian ini. Oleh karena itu, pada 23 Oktober 2018 HAGI bekerjasama dengan ITB dan PusGeN mengadakan sebuah Diskusi Terbuka "Pembelajaran dari Gempa Lombok dan Gempa Palu 2018 untuk Mitigasi Bahaya Kegempaan dan Tsunami Likuifaksi di Jawa Bagian Barat". Diskusi terbuka ini diselenggarakan di Aula Timur ITB, Jalan Ganesa No 10 Bandung.    

Prof Sri Widiyantoro sedang memberikan pemaparan tentang tinjauan seismologi dari kejadian Gempa Lombok dan Gempa Palu 2018
Diskusi terbuka ini terbagi dalam tiga sesi dan menghadirkan delapan pembicara. Sesi pertama topik yang dibicarakan adalah "Tinjauan Ilmiah Kejadian Gempa Lombok dan Gempa Palu 2018. Pada sesi pertama ini menghadirkan pembicara Prof. Sri Widiyantoro (Ahli Seismologi / ITB), Prof. Masyhur Irsyam (Ahli Seismic Hazard / ITB) dan Dr. Hamzah Latief (Ahli Tsunami / ITB). 

Dalam paparannya, Prof. Sri Widiyantoro menyampaikan bahwa sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi waktu terjadinya gempa, dan di mana lokasinya. Namun potensinya dapat diketahui sebab banyak penelitian telah dilakukan, hal itu bisa diketahui dari peta gempa nasional yang telah dikeluarkan oleh PusGen di bawah Kementrian PUPR.

Selanjutnya, Prof. Masyhur Irsyam menyampaikan hasil kajiannya terhadap kejadian benca gempa bumi di Palu 2018 bersama tim dari ITB, KemenPUPR, PusGen, LIPI. Tim telah melakukan survei langsung ke lapangan termasuk terhadap daerah-daerah yang terjadi likuifaksi seperti di Petobo, Balaroa, Jonooge, dan Sibalaya.

Prof. Masyhur Irsyam memaparkan tentang tinjauan Gempa Lombok dan Gempa Palu dari kajian seismic hazard dan geoteknik
Terkait kejadian likuifaksi di Palu, berdasarkan data hasil survei yang telah dilakukan menunjukkan bahwa daerah tersebut memenuhi syarat terjadinya likuifaksi yang ditandai dengan tanah pasir, jenuh air, pasirnya tidak padat, menerima getaran dari gempa. Ditambah kedalaman muka air pun sangat dangkal, misalnya untuk daerah Petobo muka air hanya 3 meter, dan Balaroa 7 meter. 

Sementara itu, Dr. Hamzah Latief menerangkan tentang fakta-fakta tsunami yang terjadi di Palu. Berdasarkan hasil analisanya, kemungkinan besar kejadian tsunami di Teluk Palu tersebut dibangkitkan oleh longsoran sedimen di laut karena gempa. Berdasaran data rekaman Stasiun Pasang Surut (Pasut) BIG, tsunami terjadi pada saat pasang tinggi dengan tinggi gelombang tsunami (dari puncak ke lembah) sekitar 4 meter, sehingga memberikan dampak yang cukup besar. Tsunami ini beresonansi di Teluk Palu yang berukuran panjang sekitar 30 km dan lebar 7 km dengan kedalaman teluk mencapai 600 sampai dengan 800 meter.

Dia menambahkan, kesimpulan sementara yang dapat disampaikan yakni, tinggi tsunami hasil pengukuran berkisar 3-4 meter di atas muka laut namun cepat meluruh setelah pecah. Ini menandakan bahwa panjang gelombang tsunami relatif pendek.

Pada sesi yang kedua topik yang dibicarakan adalah "Dampak kerusakan bangunan akibat kejadian gempabumi". Pada sesi kedua ini hadir sebagai pembicara adalah Prof. Iswandi Imran (Ahli Rekayasa Struktur / ITB) dan Prof. Arief Sabaruddin (Puskim - PUPR). 

Prof. Iswandi Imran memaparkan bahwa Gempa bumi yang terjadi di Palu dan Lombok beberapa waktu lalu, telah menyebabkan bangunan rusak baik rusak skala ringan, sedang, maupun berat. Banyaknya kerusakan tersebut salah satunya disebabkan karena tidak mengikuti kaidah bangunan tahan gempa.

Standar bangunan tahan gempa sendiri sebetulnya sudah diatur oleh pemerintah melalui Kementerian PUPR. Namun di lapangan, banyak bangunan kurang memenuhi standar yang ditentukan. Misalnya dinding dari bata yang seharusnya dilengkapi dengan kolom-kolom pengikat, agar bisa menjaga dinding tak roboh meskipun terkena guncangan.

Sedangkan pada sesi ketiga, topik yang dibicarakan adalah "Pembelajaran untuk mitigasi kegempaan dan tsunami di Jawa bagian barat". Pada sesi ketiga, ada tiga pembicara yang hadir, yaitu Benyamin Sapiie, Ph.D (Ahli Geologi Struktur / ITB). Dr. Mudrik R. Daryono (Ahli Paleoseismologi / LIPI) dan Dr. Sugeng Pribadi (BMKG).

Dalam paparannya, Pak Mino (sapaan akrab Benyamin Sapiie, Ph.D) menjelaskan tentang mekanisme struktur tektonik yang terbentuk di Sesar Palu Koro berdasarkan simulasi pemodelan sandbox. Simulasi pemodelan sandbox memperlihatkan dengan baik tentang rupture yang terjadi di sesar Palu Koro, dan hasil pemodelan ini menyerupai surface rupture berdasarkan hasil survey lapangan sesaat setelah kejadian gempa di Palu dan Donggala.

Selanjutnya, Dr. Mudrik memamarkan tentang hasil penelitian paleoseismologi di Sesar Palu-Koro dan Sesar Lembang. Berdasarkan hasil kajian paleoseismologi memberikan gambaran tentang beberapa event gempa yang terjadi pada masa lalu. 


Di akhir acara diskusi terbuka, Dr. Irwan Meilano memberikan beberapa hal yang menjadi perhatian kita bersama. Salah satu dari hal tersebut adalah tentang tindak lanjut dari diskusi terbuka ini. Hal ini tentu menjadi penting bagi semua kita yang peduli tentang mitigasi bencana untuk mengambil peran dan pembejalaran dari kejadian Gempa Lombok dan Gempa Palu 2018.

Photo bersama pembicara dan peserta diskusi terbuka
  










Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.