Notulensi Diskusi Ilmiah Populer HAGI: Tsunami Selat Sunda Antara Keterbatasan dan Ketidakpastian (Sesi 1)

Maret 01, 2019




Moderator: Dr Zulfakriza

Pembicara 1
Rahmat Triyono ST, M.Sc, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG – Aktivitas gunung api anak Krakatau dan kejadian tsunami 22 Desember 2018

Memaparkan kronologi kejadian tsunami di Selat Sunda 22 Desember 2018, diantaranya dengan informasi hasil monitong tidegaugepada saat kejadian tsunami dan rekaman seismik serta analisis sumber tsunami. Beliau berharap ada kolaborasi setelah diskusi ini. Beliau melaporkan pengamatan tidegauge:

  • TidegaugeSerang tercatat pukul 21.27 WIB dengan ketinggian 0,9 m;
  • Dua data di Lampung dan Banten tidak jauh berbeda waktu tibanya (21.27 dan 21.33);
  • Peristiwa tsunami di Banten tidak dipicu oleh gempabumi (press release);
  • Tanggal 21 dan 22 ada peringatan gelombang tinggi oleh Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG namun tidak direspon baik oleh masyarakat.
Waveformgempabumi BMKG menunjukkan ada sesuatu yang lain setelah difilterdi mana gelombang S terekam, namun gelombang P tidak terekam. Setelah difilter, gelombang P dan S-nya telihat dan lokasinya berada di Krakatau dengan hasil inversi momen tensor M=5,2. Namun seharusnya dengan magnitudo ini masyarakat dapat merasakan getarannya. Beliau menjelaskan rencana ke depan dapat membuat SOP untuk gunung Krakatau mengingat banyaknya gunung-gunung laut lain selain gunung Krakatau. 

Gelombang S tidak terekam jika diakibatkan oleh sumber non-tektonik, seperti gunung api. Ke depannya dengan INASEIS diharapkan dapat memonitoringgunung Kratakau. Untuk itu harus ada koordinasi antara PVMBG dan BMKG untuk tsunami yang diakibatkan oleh gunung. Ke depannya diharapkan dapat memasang alat monitor yang lebih banyak di sekitar gunung Kratakau. Kalau tektonik, jika M=7 maka akan ada ‘warning’. Perlu dipikirkan SOP untuk gunung api. Semisal implementasi SOP berdasarkan lokasi. lokasinya di gunung (based on Magdan Epicenter). Untuk itu perlu meningkatkan sensor di sekitar gunung. Ada 9 gunung yang berpotensi tsunami jika terjadi longsoran lereng gunung api. 

Kesimpulan: Sumber getar episenter di gunung Krakatau. Tsunami diselat sunda diakibatkan oleh aktivitas non-tektonik. Saat ini, sistem peringatan dini tsunami BMKG belum mampu memodelkan gelombang tsunami akibat non-tektonik secara dini, seperti longsoran, erupsi vulkanik, dll. BMKG siap menyonsong masa depan dengan memberikan peringatan dini tsunami tidak hanya diakibatkan oleh aktivitas tektonik.

Pembicara 2 
Dr Hendra Gunawan, Kepala Bidang Gunung Api PVMBG - Aktivitas gunung api anak Krakatau dan strategi pemantauannya

Terdapat 127 gunung api aktif dengan 77 tipe A, 29 tipe B dan 21 tipe C. Karakter erupsi gunung api Krakatau sangat bervariasi. Menurut catatan raja-raja terdahulu terdapat erupsi besar pada 416 Masehi. Berdasarkan pemantauan gunung Krakatau, tahun 2006-2007 terjadi peningkatan gempa vulkanik. Pada Oktober 2007 terjadi letusan hampir setiap tahun (2007-2011). Tektonik Selat Sunda sangat kompleks. 

Kendala pemantauan gunung api Krakatau diantaranya vandalisme. Sejak tahun 2007 banyak sensor seismometer yang hilang. Adapun visual letusan 2011 memperlihatkan aktivitas padatan yang pecah dan aliran fluida (didominasi oleh aktivitas fluida). Untuk aktivitas gunung Krakatau tahun 2018 sebagai berikut. Diawali tanggal 29 Juni terdapat erupsi abu. Akhir Juli (22 Juli) dari abu menjadi strombolian, dan mencapai puncaknya (energi) pada November 2018. 

Awal Desember ada penurunan aktivitas letusan. Pada tanggal 26 Desember ada lateralblast. Namun seismograf pada tanggal 26 Desember mati. Morfologi gunung Krakatau sebelum dan setelah 22 Desember terlihat ada perubahan (garis pantai dan morfologi dalam gunung Krakatau). Untuk updateaktivitas Krakatau, jumlah letusan cenderung menurun.

Strategi mitigasi PVMBG yaitu produk berupa peta Kawasan Rawan Bencana (KRB). Jika ada erupsi abu akan diberitahu melalui VONA. Strategi yang coba dikembangkan oleh PVMBG adalah telemetrik dengan internet dan radio serta satelit. 

Sebagai penutup, aktivitas gunung Krakatau sangat dinamis sehingga memerlukan pemahaman yang lebih mendalam.

Pembicara 3 
Dr Mirzam Abdurrahman, Dosen Teknik Geologi ITB - Dinamika erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK), sebelum dan sesudah tsunami 22 Desember 2018

Ada beberapa catatan yang dapat ditulis dari paparan Pak Mirzam,

Di Indonesia selain GAK, terdapat beberapa gunung yang lokasinya di lautan. Potensinya mungkin sama dengan GAK. Karaker gunungnya eksplosif dan juga bisa aliran

Sejarah pembentukan kaldera letusan 1883. VEI 6, tsunami >15km, pyroclasticflow>40 km.

Sejarah awal letusan GAK pada tahun 530, berdasarkan informasicarbondan isotop.

Geologi GAK: monitoringlava hasil erupsi, 2012, 2014, 2017. Tidak ada perubahan komposisi yang signifikan

Crystalsizeditribution menceritakan residenttime waktu sebelum jadi magma, peningkatan waktu mengakibatkan kekentalan meningkat. Bisa karena temperatur turun atau banyaknya kristal. Bisa mengakibatkan letusan eksplosif. Kecepatandekompresi dan ascentrate, untuk nilai tersebut, digunung Sakurajima sudah terjadieksplosif tapi di GAK belum meletus. Itu adalah evident 2012 sampai 2017.

Kondisi pasca tsunami. Hilangnya morfologi GAK ini apa seperti batu bata dimasukkan perlahan atau dilemparkan.Bukaan GAK (runtuhan morfologi) selalu ke barat daya.  Pertumbuhan morfologi luar GAK, dalam 4 hari sudah hampir menyatu garis  pantainya. 

Mungkin letusan tanggal 22 Desember silam terbentuk wedus gembel, tapi karena malam hari sehingga tidak terlihatwedus gembelnya

Dari Selat Sunda jika ditarik dariarahbarat dayake timur laut, ada pola runtuhan.Letusan tahun 553, 1881, mengarah kebarat daya.

Berdasarkan hasil penelitian, abu vulkanik tanggal 5-6 Januari 2019 memiliki 8 komposisiutama.

Kedelapan komposisinya yaitu 4 biasa dan4 menarik. Diantaranya: Pele’s hair putih, yang  biasanya gelap; light brown; skoria; pamish. Skoria (lebih basaltik dari pada pamish) dan pamish dikirim dari dua sumber, apakah infiltrasi atau sourcenya memang berbeda. 

Dari rekaman video, kecepatan diperkirakan 90 km/ jam setelah anak Krakatau kehilangan tubuhnya, analogi setelah panci tutup dibuka. 

Pertumbuhan GAKcepat. Di bawah GAKada dua source. Ada partialmelting(berdasarkan tomogram Vp), ada plum(berdasarkan tomogram Vs).

Kenapa runtuhan ke arah barat daya? Karena plumdan partialmelting tidak sejajar, sehingga pertambahan ada di barat daya.


Notulen:
Dian Kusumawati
Shindy Rosalia

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.