15 Tahun Gempa dan Tsunami Pangandaran (17 Juli 2006 - 17 Juli 2021) Tsunami Senyap Di Pantai Selatan Jawa Barat

By Zulfakriza Z. - Juli 18, 2021

 

Gambar 1. Peta informasi tentang posisi dan mekanisme sumber gempa M=7,7 pada 17 Juli 2006 yang terjadi di selatan Jawa Barat.

17 Juli 2006, tepatnya pukul 15:19 WIB sebuah kejadian gempa melanda pantai salatan Jawa Barat. Berdasarkan informasi dari USGS, gempa ini memiliki Magnitudo 7,7 dan kedalaman sumbernya adalah 20 km. Gempa terjadi pada bidang pertemuan dua lempeng tektonik, yaitu Lempeng Samudera Indo-Australia dan Lempeng Benua Eurasia. Secara mekanisme sumbernya, gempa yang terjadi pada 17 Juli 2006 terpicu oleh adanya aktivitas sesar naik (Gambar 1) pada bidang kontak lempeng tektonik. Dengan kata lain, gempa ini merupakan gempa megathrust di salatan Jawa.

Salah satu dari beberapa makalah yang membahas tentang mekanisme gempa dan tsunami Pangandaran adalah makalah Mori dkk. (2007). Makalah ini berjudul The 17 July 2006 Tsunami Earthquake in West Java, Indonesia, yang terpublikasikan pada Maret 2007 di Seismological Research Letters Volume 78, no. 2. 

Pusat gempa berada di laut sekitar 225 Km arah Baratdaya Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Getaran gempa ini, seperti yang dijelaskan oleh Mori dkk. (2007), bahwa guncangan gempa ini dirasakan relatif kecil di Pangandaran dan di wilayah pesisir lain di selatan Jawa yang banyak korban akibat tsunami. Beberapa warga di wilayah tersebut tidak merasakan getaran gempa, seperti yang ditunjukkan oleh hasil wawancara informal yang dilakukan oleh Mori dkk. (2007). Dari 67 orang yang diwawancarai, 57 orang merasakan getaran gempa relatif kecil (MMI III-IV) dan delapan orang lainnya tidak merasakan getaran gempa sama sekali. 

Lebih lanjut, Mori dkk. (2007) menjelaskan bahwa masyarakat di Pangandaran lebih merasakan getaran akibat gempa M=6,3 yang terjadi pada 26 Mei 2006 di Yogyakarta. Getaran gempanya dirasakan lebih kuat dibanding dengan gempa yang terjadi pada 17 Juli 2006. 

Berdasarkan laporan dari USGS, gempa yang terjadi pada 17 Juli 2006 menunjukkan intensitas skala MMI III di Cianjur, MMI II-IV di Bandung dan MMI II di Yogyakarta. Namun yang menariknya, di wilayah Jakarta yang jaraknya relatif jauh diperkirakan getaran gempa dirasakan pada MMI IV. Perkiraan nilai MMI IV berdasarkan laporan getaran yang dirasakan oleh orang-orang dari gedung-gedung tinggi di Jakarta (Mori dkk. 2007).  

Pada umumnya masyarakat tidak merasakan gempa yang kuat, sehingga tidak membayangkan akan terjadinya tsunami. Beberapa publikasi ilmiah yang mempelajari tentang tsunami di Pangandaran menyimpulkan bahwa kejadian ini termasuk jenis tsunami earthquake atau dalam beberapa literasi di Indonesia menyebutkan "tsunami senyap". Artinya, gelombang tsunami terbangkitkan bukan dari goncangan gempa kuat yang dirasakan oleh masyarakat. Hal ini hampir sama dengan kejadian tsunami di Mentawai pada 2010. Namun berbeda dengan tsunami di Aceh dan Nias pada 2004 dan 2005 yang mana getaran gempanya dirasakan sangat kuat.

Tsunami 17 Juli 2006 dapat dikatakan sebagai salah satu tsunami besar yang pernah terjadi di pantai selatan Jawa. Wilayah yang terdampak dari tsunami ini adalah lebih dari 250 km, mulai dari bagian selatan Garut sampai dengan Yogyakarta di bagian timur. Pangandaran tentu merupakan wilayah paling terdampak tsunami, sehingga kejadian 17 Juli 2006 lebih dikenal dengan Tsunami Pangandaran 2006. Perkiraan tinggi landaan tsunami adalah 4 - 6 meter. Sedangkan berdasarkan laporan dari Kementrian Kelautan dan Perikanan (2006) menunjukkan landaan tsunami bervariasi, yaitu mulai dari 1 hingga 8 meter.  

Gambar 2. Sebaran tinggi landaan tsunami di pesisir pantai Selatan Jawa Barat akibat gempa M=7,7 pada 17 Juli 2006 (Mori dkk., 2007)

Kejadian Tsunami Pangadaran memberikan pelajaran bahwa potensi tsunami senyap (earthquake tsunami) mungkin terjadi lagi di kemudian hari. Seperti halnya tsunami Pangandaran yang mengakibatkan lebih dari 600 orang meninggal terpicu oleh gempa yang memiliki getaran yang relatif kecil dirasakan oleh masyarakat yang bermukim di Pangandaran. 

Sehingga untuk itu menjadi penting untuk penguatan sistem pemantau seismik pada frekuensi rendah serta sistem diseminasi publik tentang potensi dan bahaya tsunami di Pantai Selatan Jawa.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

PyGMT, Paket Python untuk Generic Mapping Tools (GMT)

Ada hal menarik bagi para peminat GMT ( Generic Mapping Tools ), khususnya yang senang bermain-main dengan peta dan ploting grafik atau...