Catatan #Gempa M=5,2 Mamasa Sulawesi Barat pada 22 Juli 2021

By Zulfakriza Z. - Juli 22, 2021

Gempa M=5,2 terjadi pada 22 Juli 2021pukul 00.44 WIB. Posisi gempa ini adalah sekitar 6 km arah Tenggara Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, dan kedalaman sumber gempanya adalah 10 km (informasi dari BMKG). Sedangkan parameter gempa yang dikeluarkan oleh situs USGS, gempa ini memiliki Magnitudo 5,2 dengan kedalaman sumber gempa adalah 11, 4 km.

Pada awalnya, sekitar 5 menit setelah kejadian gempa, BMKG mengeluarkan informasi parameter gempa ini memiliki Magnitudo 5,3 dan kedalaman sumber gempanya 10 km. Namun, seiring dengan bertambahnya data yang diterima oleh sistem pengolahan data, BMKG melakukan pemutakhiran parameter gempanya menjadi Magnitudo 5,2 dan kedalaman sumber gempanya adalah 10 km.

Jika memperhatikan mekanisme fokus dari kejadian gempanya (Gambar 1), gempa yang terjadi di Mamasa pada 22 Juli 2021 terpicu oleh adanya aktivitas Oblique Normal Fault. Artinya, kejadian gempa ini dipengaruhi oleh adanya kombinasi dari aktivitas sesar turun dan sesar mendatar. 

Getaran gempa terasa dalam skala MMI III-IV di Mamasa, Kaluku, Majene dan Mamuju. Arti fisis dari skala MMI III-IV adalah getaran dirasakan oleh sebagian besar orang yang berada di dalam rumah. Selanjutnya getaran gempa dalam skala MMI II-III di Majeng dengan getaran yang dirasakan seperti getaran yang diakibatkan oleh truk yang melintas. 

Berdasarkan data rekaman kejadian gempa yang ada di halaman InaTEWS-BMKG, sampai dengan 22 Juli 2021 pukul 14.00 WIB setidaknya tercatat sekitar 31 kejadian gempa susulan. Kekuatan gempanya bervariasi, mulai dari Magnitudo 2,5 sampai dengan 4,4.

---

Jika memperhatikan mekanisme fokus gempa ini, dominannya adalah sesar turun meskipun ada kombinasi dengan sesar mendatar. Sebelumnya pada 2 November 2018, terjadi rangkaian gempa swarm di Mamasa, lokasinya berdekatan dengan gempa yang terjadi pada 22 Juli 2021. 

Supendi dkk. (2019) melakukan relokasi dari kejadian gempa ini dan berhasil melakukan relokasi hiposenter gempa 535 dari 556 dengan magnitudo beragam, mulai dari 2 sampai 5,4. Kajian ini juga melakukan perhitungan mekanisme fokus dari rangkaian gempa yang terjadi pada 2018. Dominan mekamise fokusnya (Gambar 1) adalah sesar turun dan beberapa diantaranya memiliki pola mekanisme sesar miring (kombinasi antara sesar turun dan sesar mendatar). 

Hasil studi yang dilakukan oleh Supendi dkk. (2019) memberikan gambaran bahwa kejadian gempa pada 2 November 2018 terpicu oleh adanya aktivitas sesar lokal dan kemungkinan berhubungan dengan rangkaian gempa yang terjadi pada 22 Juli 2021.

Jika mengacu pada publikasi Maulana dkk. (2012), memperlihatkan adanya kemenerusan struktur di bagian lengan selatan Sulawesi. Secara posisi, kemenerusan struktur ini relatif berdekatan dengan rangkaian gempa yang terjadi di Mamasa pada 2 November 2018 dan 22 Juli 2021.

Pertanyaannya, apakah kemenerusan struktur ini yang memicu gempa, atau ada struktur patahan lain yang belum terpetakan secara baik di daerah Mamasa. 

Gambar 2. Keberadaan Sesar Sadang (Sadang Fault)  
Dalam sebuah referensi menyebutkan adanya Sesar Sadang seperti yang terlihat pada Gambar 2. Namun masih diperlukan kajian yang lebih lanjut tentang karakteristik Sesar Sadang. Untuk itu butuh kajian lebih lanjut untuk memahami ini, tentunya kajian kolaborasi antara geologi, seismologi dan geodesi gempabumi. 

Beberapa catatan bisa dilihat pada lampiran link YouTube di bawah.





  • Share:

You Might Also Like

0 comments

PyGMT, Paket Python untuk Generic Mapping Tools (GMT)

Ada hal menarik bagi para peminat GMT ( Generic Mapping Tools ), khususnya yang senang bermain-main dengan peta dan ploting grafik atau...