Gempa Selat Sunda, Apa Saja yang Bisa Dipahami?

By Zulfakriza Z. - Juli 10, 2021


Selat Sunda, sebuah selat yang menggabungkan antara Laut Jawa dan Samudera Hindia (Indo-Australia) serta menghubungkan antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. 

Secara tektonik, wilayah Selat Sunda berada pada kombinasi fitur-fitur tektonik yang dipengaruhi oleh aktivitas subduksi antara Lempeng Samudera Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Benua Eurasia. Hamilton (1979) menjelaskan bahwa implikasi dari pertemuan lempeng tersebut adalah terbentuknya palung samudera, busur non-gunung api yang tersusun oleh prisma akresi, busur gunung api dan cekungan busur belakang. 

Sementara jika mengacu pada Harjono dkk. (1991), menerangkan bahwa zona penunjaman yang memanjang dari ujung utara Pulau Sumatera menerus sampai selatan Nusa Tenggara mengalami pembelokan di Selat Sunda. Sistem penunjaman di Sumatera dan Jawa, Bali sampai Nusa Tenggara memiliki perbedaan, yaitu sistem penunjaman miring (oblique) di perairan barat Sumatera dan sistem penunjaman tegak (frontal) di perairan selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

Lebih lanjut, Harjono dkk. (1991) memberikan bukti-bukti bahwa mekanisme gempa yang terjadi di Selat Sunda dipengaruhi oleh keberadaan kompleks Gn. Krakatau dan Graben Semangko. Zona ini merupakan ekspresi dari aktivitas tektonik yang dipengaruhi oleh pola dinamika lokal yang ada di Selat Sunda. Jika diperhatikan pola tegangan tensor (tensor stress) yang terjadi, hal ini memberikan pola bahwa arah tarikannya sekitar 130 derajat ke arah timur, dengan kata lain searah dengan pergerakan Zona Sesar Sumatera. Sementara jika memperhatikan pola dinamika di Palung Sunda (Sunda Trench), Lempeng Samudera Indo-Australia memiliki arah pergerakan relatif ke utara dengan kecepatan antara 6-7 cm/tahun. 

Dengan merujuk pada Hamilton, (1979), dapat dikatakan bahwa wilayah Selat Sunda yang berada di antara Sumatera dan Jawa merupakan zona transisi yang terbentuk karena perubahan arah dan kecepatan subduksi Lempeng Samudera Indo-Australia yang menunjam Lempeng Benua Eurasia.

Gempa yang tejadi pada 23 Mei 2021 (Gambar 1) memperlihat tentang pola maknisme gempa sesar naik yang sedikit miring (oblique thrust fault) dan sesar turun yang juga miring (oblique thrust fault). Dua pola mekanisme kejadian gempa memperkuat penjelasan tentang pola dinamika tektonik yang ada di Selat Sunda. 

Gambar 1. Posisi episenter kajadian gempa pada 23 Mei 2021 berdasarkan sumber dari katalog USGS dan pola mekanisme fokus berdasarkan sumber dari InaTEWS-BMKG.

Keberadaan pola mekanisme fokus sesar naik seperti yang diperlihatkan pada Gambar 1, hal ini menandakan bahwa bagian busur muka Selat Sunda mengalami kompresi akibat adanya penunjaman lempeng tektonik. Namun kondisi ini juga mengakibatkan adanya pola ekstensi akibat adanya pergerakan Sumatera ke arah baratlaut. 

Berdasarkan beberapa kajian geofisika yang pernah dilakukan, hasilnya menunjukkan adanya dominasi ekstensi di daerah busur muka Selat Sunda dan indikasi adanya bukaan yang menerus di daerah busur muka karena batas selatan lempeng busur muka Sumatra berupa Zona Sesar Sumatra yang terus melaju ke arah baratlaut, sehingga diinterpretasikan sebagai kelanjutan Zona Sesar Sumatra sampai ke batas Palung Sunda dalam bentuk suatu sistem graben. Kondisi ini yang kemungkinan menjadi penjelasan tentang pola mekanisme sesar turun pada beberapa gempa yang terjadi di Selat Sunda, seperti gempa yang terjadi pada 23 Mei 2021.

Video berikut menjelaskan tentang beberapa catatan gempa yang terjadi di Selat Sunda pada 23 Mei 2021.


Referensi:

Hamilton,W.,1979. Tectonics of the Indonesian region. US Geol. Surv. Prof. Pap., vol. 1078. 345 pp.

Harjono, h., Diament, M., Dubois, J., Larue, M., Zen, M.T., 1991. Seismic- ity of the Sunda Strait: evidence for crustal extension and volcano- logical implication. Tectonics 10 (1),17–30.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments

PyGMT, Paket Python untuk Generic Mapping Tools (GMT)

Ada hal menarik bagi para peminat GMT ( Generic Mapping Tools ), khususnya yang senang bermain-main dengan peta dan ploting grafik atau...